Minggu, 01 Juni 2014

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

Kemajuan zaman yang begitu pesat telah merangsang perkembangan di segala bidang terutama bidang industri. Penggunaan sistem teknologi dan informasi yang kian mempercepat tumbuhnya bidang industri telah menciptakan dunia baru bagi manusia seolah-olah mereka tidak membutuhkan lagi interaksi dengan lingkungan sekitarnya bahkan dengan lingkungan hidupnya. Mereka hanya memikirkan bagaimana memanfaatkan semaksimal mungkin energi dan kekayaan dari alam untuk kelangsungan industri dan pabrik-pabrik yang mereka buat demi meningkatkan hasil produksi guna mencapai keuntungan sebesar-besarnya.


Dengan semakin banyaknya industri yang bermunculan maka semakin banyak pula limbah yang dihasilkan yang akan membahayakan ekosistem dan kesehatan manusia. Sikap dan sifat manusia yang terus menguras habis kekayaan alam inilah yang menimbulkan banyak bermunculan masalah-masalah yang berkaitan dengan lingkungan hidup yang kemudian mempengaruhi pembangunan berkelanjutan, beberapa masalah lingkungan hidup yang dilaporkan oleh situs BBC News yaitu:
  • Food / Makanan :Terjadinya krisis pangan dibeberapa negara dikarenakan minimnya lahan pertanian dan sedikitnya tanaman pangan.
  • Water/ air  :Pada tahun 2025 dipastikan terjadi krisis air karena sulit didapat air bersih untuk minum.
  • Energy / Sumber Energi :Pada tahun 2010 cadangan energi dalam bumi seperti minyak bumi akan mulai beranjak habis.
  • Climate Change/ Perubahan Iklim : Perubahan iklim yang ekstrim akan mulai terasa akibat dari ketidak seimbangan lingkungan.
  • Biodiversity/ Keanekaragaman Hayati : Semakin berkurangnya kekayaan hayati dan punahnya bebrapa eksositem serta spesies tertentu yang pada akhirnya akan berimbas pada kepunahan manusia sendiri.
  • Poluttion / Polusi : Limbah pabrik dan mesin yang digunakan terus menerus oleh manusia akan mempercepat kerusakan lingkungan. Pencemaran ini juga telah berpengaruh pada kesehatan manusia sendiri dimana menurut berita dari BBC sendiri bahwa dalam tubuh bayipun sekarang telah terdapat bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan dan pertumbuhannya.
Jadi Inti masalah lingkungan hidup dalam pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan hidup adalah hubungan timbal balik antara makhluk hidup (organisme) dengan lingkungannya yang bersifat organik maupun anorganik yang juga merupakan inti permasalahan bidang kajian ekologi. 

Masalah-masalah lingkungan hidup yang berpengaruh pada pembangunan berkelanjutan diatas terlihat jelas bahwa dampaknya sangat merugikan bagi manusia sendiri dimana kebutuhan akan makanan dan air bersih akan berkurang dan lebih parahnya lagi dengan meningkatnya polusi maka meningkat pula kerawanan yang mengancam kesehatan tubuh kita.

Untuk Mengatasi permasalahan lingkungan hidup ini, di Indonesia telah ditetapkan beberapa aturan hukum yang membahas mengenai hal ini yaitu Pasal 3 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagaimana telah diubah oleh Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menyatakan bahwa pengelolaan lingkungan hidup diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara, asas berkelanjutan, dan asas manfaat dan bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Istilah “pembangunan berkelanjutan yang berwawasan Lingkungan” merupakan penggambaran adanya saling ketergantungan antara pelestarian dan pembangunan. Penetepan hukum akan lingkungan hidup ini tidak akan berjalan efektif dan berkesinambungan jika masyarakat dan pemerintah tidak secara konsensus melaksanakannya dengan konsisten dan pasti.

Sekali lagi konsensus bersama dalam melaksanakannya dengan konsisiten dan pasti, kata 'pasti' disini adalah percaya dan optimis 100% akan keberhasilan pencapaian dari rencana tersebut. Dan konsep pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup akan dapat diterapkan dengan koordinasi lebih mudah.

Disadur dari :
news[dot]bbc[dot]co[dot]uk/1/hi/sci/tech/3686106.stm
Planet Underpressure, 27 March 2008
http://wisnuku.blogspot.com/2011/08/pembangunan-berkelanjutan-berwawasan.html

JEJAK EKOLOGIS

JEJAK EKOLOGIS

Pengertian Ekologis
Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu Oikos yang artinya Rumah atau tempat hidup dan Logos yang artinya ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya.


Pengertian dan Definisi Jejak Ekologis
Wackernagel dan Rees (1992) mendefinisikan Jejak Ekologis atau Appropriated Carrying Capacity suatu wilayah sebagai luas lahan dan air dalam berbagai katagori yang diperlukan secara eksklusif oleh penduduk di dalam wilayah tersebut, untuk :
  • Menyediakan secara kontinyu seluruh sumberdaya yang dikonsumsi saat ini.
  • Menyediakan kemampuan secara kontinyu dalam menyerap seluruh limbah yang
    dihasilkan.
Lahan tersebut saat ini berada di muka bumi, walaupun sebagian dapat dipinjam dari masa lalu (misalnya : energi fosil) dan sebagian lagi dialokasikan pada masa yang akan datang (yakni dalam bentuk kontaminasi, pohon yang pertumbuhannya terganggu karena peningkatan radiasi ultra violet, dan degradasi lahan, Wackernagel dan Rees, 1992). 

Sejalan dengan pendapat tersebut, Galli, et al; (2012) menyatakan bahwa jejak ekologis dan biokapasitas adalah nilai-nilai yang dinyatakan dalam satuan yang saling terpisah dari suatu daerah yang diperlukan untuk menyediakan (atau regenerasi) layanan ekosistem setiap tahun seperti:
  • Lahan pertanian untuk penyediaan makanan nabati dan produk serat.
  • Tanah penggembalaan dan lahan pertanian untuk produk hewan.
  • Lahan perikanan (laut dan darat).
  • Hutan untuk kayu dan hasil hutan lainnya.
  • tanah serapan untuk mengakomodasi penyerapan karbon dioksida antropogenik (jejak karbon), dan wilayah terbangun (built-up area) untuk tempat tinggal dan infrastruktur lainnya.
 
Sesuai definisi tersebut, Wada (1993) merumuskan jejak ekologis/appropriated carrying capacity dari kegiatan pertanian (hidroponik di rumah kaca dibandingkan dengan mekanisasi pertanian konvensional) sebagai berikut: “Luas lahan pertanian dan ekivalen lahan dari input pertanian lainnya (seperti energi dan material) yang dibutuhkan untuk memproduksi unit tanaman tertentu per tahun, menggunakan teknologi pertanian tertentu.”
Kyushik, et al. (2004) memberikan konsep daya dukung kota di dalam penelitiannya yang didefinisikan sebagai level maksimum dari kegiatan manusia seperti pertumbuhan penduduk, penggunaan lahan, serta pembangunan fisik lainnya, yang dapat didukung oleh lingkungan perkotaan tanpa menyebabkan kerusakan yang serius dan kerusakan yang tak terpulihkan pada lingkungan alam.
Konsep ini didasarkan pada asumsi bahwa terdapat ‘ambang batas tertentu’ pada lingkungan yang apabila dilampaui, akan dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan yang serius dan tak terpulihkan pada lingkungan alam (Kozlowski, 1997). Ketika pembahasan difokuskan pada dampak terhadap destinasi pariwisata, biasanya didasarkan pada suatu bentuk konsep daya dukung wisatawan. 
Daya dukung turisme seringkali didefinisikan sebagai berikut: “Jumlah turis yang berpotensi merusak sebuah tempat yang dapat diasimilasi tanpa kerusakan jangka panjang dan dapat diukur dengan jumlah turis yang menggunakan tempat tersebut untuk menentukan apakah daya dukung sosial telah terlampaui dan lokasi dimaksud telah digunakan melampaui kapasitasnya (over utilized)” (Patterson, 2005). Analisis Jejak Ekologis berawal dari analisis daya dukung penduduk yang ditentukan di dalam suatu wilayah tertentu. Analisis Jejak Ekologis telah digunakan untuk mendefinisikan daya dukung ekologis untuk destinasi turis di New Zealand.

Zhao, et al; (2005) mengatakan bahwa jejak ekologis memiliki akar yang kuat di dalam konsep daya dukung lingkungan. Sebagaimana telah didefinisikan oleh ahli-ahli biologi, daya dukung adalah sejumlah individu dari species tertentu yang dapat didukung dalam suatu habitat tertentu tanpa merusak ekosistem secara permanen (Odum, 1989; Rees,1992).

Apabila populasi dari species tersebut telah melebihi daya dukung habitatnya, maka yang terjadi adalah sumberdaya yang dibutuhkan oleh spesies tersebut bagi kelangsungan hidupnya akan mengalami deplesi, atau limbah yang diproduksi species tersebut menumpuk dan meracuni anggota species, atau akan terjadi keduanya, dan populasi pun akan punah.
Daya dukung ekologis adalah beban maksimum yang dapat didukung secara terus menerus oleh lingkungan (Catton, 1986). Daya dukung tidak akan berkelanjutan kecuali bila didasarkan pada penggunaan sumberdaya dalam cara yang bisa terbarukan (renewable way).

Sintesis dari berbagai definisi tentang jejak ekologis dan dayadukung tersebut, maka peneliti mendefinisikan jejak ekologis zona industri sebagai berikut :
  • Jejak Ekologis/Appropriated Carrying Capacity sebuah zona industri adalah jumlah luas lahan yang dipakai dan ekivalen (lahan, air, daya tampung limbah) yang diperlukan untuk mendukung kegiatan zona industri tersebut,tanpa menyebabkan kerusakan yang serius dan tak terpulihkan pada lingkungan alam di zona industri dimaksud.
Konsep daya dukung industri didefinisikan sebagai level/tingkat maksimum dari kegiatan industri Genuk, yang dapat didukung oleh lingkungan di Kecamatan Genuk tanpa menyebabkan kerusakan serius dan tak terpulihkan pada lingkungan alam. Konsep jejak ekologis sangat berhubungan erat dengan konsep daya dukung ekologis. 
Jejak ekologis diekspresikan dalam ha/kapita,
sedangkan dayadukung ekologis biasanya diekspresikan dalam unit kapita/ha, sehingga membuat konsep tersebut seolah-olah saling berlawanan satu sama lain (Bicknell, Ball, Cullen, Bigsby, 1998).

Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep dayadukung lingkungan adalah analisis lingkungan yang dilakukan di dalam zona industri secara ‘on-site/in-situ’ (luas lahan, kesesuaian lahan, sumberdaya alam dan energi yang dipakai oleh aktivitas industri serta asimilasi limbahnya), sedangkan konsep jejak ekologis merupakan analisis ‘off-site/ex-situ’ yang meliputi ekivalen luas lahan (appropriated) yang diperlukan akibat dari aktivitas industri dimaksud, dengan kategori : lahan pertanian, padang rumput, hutan, area terbangun (built up area), lautan dan lahan energi fosil (CO2-sink land).

Disadur dari :

eprints.undip.ac.id/40475/2/bab_2.pdf


Sabtu, 31 Mei 2014

SISTEM PANEN HUJAN

SISTEM PANEN HUJAN

Latar belakang:
Jumlah air di bumi sangat banyak; namun jumlah air bersih yang tersedia belum dapat memenuhi permintaan sehingga banyak orang menderita kekurangan air. Chiras (2009) menyebutkan bahwa kekurangan air dipicu naiknya permintaan seiring peningkatan populasi, tidak meratanya distribusi air, meningkatnya polusi air dan pemakaian air yang tidak efisien. Beberapa penelitian mengindetifikasi bahwa pada aras rumah tangga kekurangan air diperburuk kebocoran air akibat kerusakan home appliances yang tidak segera diperbaiki, pemakaian home appliances yang boros air, perilaku buruk dalam pemakaian air, dan minimnya pemanfaatan air hujan sebagai sumber air alternatif. Pemakaian air yang tidak terkontrol akan mengancam keberlanjutan air, sehingga perlu dilakukan konservasi air. Salah satu metode konservasi air dalam rumah tangga adalah memanen air hujan, yaitu mengumpulkan, menampung dan menyimpan air hujan. 

Memanen air hujan merupakan alternative sumber air yang sudah dipraktekkan selama berabad-abad di berbagai negara yang sering mengalami kekurangan air (Chao-Hsien Liaw & Yao-Lung Tsai, 2004). Air hujan yang dipanen dapat digunakan untuk multi tujuan seperti menyiram tanaman, mencuci, mandi dan bahkan dapat digunakan untuk memasak jika kualitas air tersebut memenuhi standar kesehatan (Sharpe, William E., & Swistock, Bryan, 2008; Worm, Janette & van Hattum, Tim, 2006).

Secara ekologis ada empat alasan mengapa memanen air hujan penting untuk konservasi air (Worm, Janette & Hattum, Tim van, 2006), yaitu: 
  1. Peningkatan kebutuhan terhadap air berakibat meningkatnya pengambilan air bawah tanah sehingga mengurangi cadangan air bawah tanah. Sistem pemanenan air hujan merupakan alternatif yang bermanfaat.
  2. Keberadaan air dari sumber air seperti danau, sungai, dan air bawah tanah sangat fluktuatif. Mengumpulkan dan menyimpan air hujan dapat menjadi solusi saat kualitas air permukaan, seperti air danau atau sungai, menjadi rendah selama musim hujan, sebagaimana sering terjadi di Bangladesh. 
  3. Sumber air lain biasanya terletak jauh dari rumah atau komunitas pemakai. Mengumpulkan dan menyimpan air di dekat rumah akan meningkatkan akses terhadap persediaan air dan berdampak positif pada kesehatan serta memperkuat rasa kepemilikan pemakai terhadap sumber air alternatif ini.
  4. Persediaan air dapat tercemar oleh kegiatan industri mupun limbah kegiatan manusia misalnya masuknya mineral seperti arsenic, garam atau fluoride. Sedangkan kualitas air hujan secara umum relatif baik. 
Ada tiga komponen dasar yang harus ada dalam sistem pemanenan air hujan yaitu:
  1. Catchment, yaitu penangkap air hujan berupa permukaan atap .
  2. Delivery system, yaitu sistem penyaluran air hujan dari atap ke tempat penampungan melalui talang .
  3.  storage reservoir, yaitu tempat penyimpan air hujan berupa tong, bak atau kolam.
Selain ketiga komponen dasar tersebut, dapat dilengkapi dengan komponen pendukung seperti pompa air untuk memompa air dari bak atau kolam penampung. (Worm, Janette & van Hattum, Tim 2006; Chao-Hsien Liaw & Yao-Lung Tsai 2004). 
Kendala yang dihadapi dalam memanen air hujan antara lain frekuensi dan kuantitas hujan yang fluktuatif serta kualitas air hujan belum memenuhi pedoman standar air bersih WHO. Ada dua isu terkait kualitas air hujan, yaitu isu bacteriological water quality dan isu insect vector
 Pertama, isu bacteriological water quality. Air hujan dapat terkontaminasi oleh kotoran yang ada di catchment area (atap) sehingga disarankan untuk menjaga kebersihan atap. Penampung air hujan juga harus memiliki tutup agar terhindar dari kotoran. Bacteria tidak dapat hidup di air yang bersih. Lumut dapat hidup jika ada sinar matahari menembus tong penampung air, oleh sebab itu tong penampung air hujan sebaiknya dibiarkan gelap dan diletakkan di tempat teduh agar lumut tidak dapat tumbuh.
 Kedua, isu insect vector. Serangga dapat berkembang biak dengan meletakkan telurnya dalam air. Oleh karena itu sebaiknya tong penampung air ditutup rapat untuk menghindari masuknya serangga seperti nyamuk. Ada beberapa metode perlakuan sederhana dalam pemakaian air hujan, antara lain: merebus air akan mematikan bakteri, menambahkan chlorine (35ml sodium hypochlorite per 1000 liter air) akan mendisinfeksi air, filtrasi pasir (biosand) akan menghilangkan organism berbahaya (Thomas, tanpa tahun). Worm & van Hattum (2006) menyebutkan sekarang dikembangkan teknik SODIS (Solar Water Disinfection) yaitu botol plastic yang sudah dicat hitam diisi air dan dijemur beberapa jam dengan tujuan untuk mematikan bacteria dan mikroorganisme dalam air hujan.
Di Taiwan secara tradisional praktek memanen air hujan banyak dilakukan di daerah yang memiliki persediaan sumber air permukaan atau air bawah tanah yang terbatas (Chao-Hsien Liaw & Yao-Lung Tsai 2004). Hasil pengamatan penulis menunjukkan meskipun memanen air hujan merupakan teknik yang sederhana, murah dan tidak membutuhkan keahlian atau pengetahuan khusus namun belum banyak dilakukan di Indonesia. Padahal praktek memanen air hujan penting sebagai alternative sumber air. Diperkirakan sebagian besar masyarakat belum menyadari pentingnya memanen air hujan sebagai salah satu upaya menghemat air akibat kurangnya pengetahuan dan informasi. Selain itu kemungkinan masyarakat juga merasa yakin tidak akan mengalami kekurangan air karena secara umum air melimpah di Indonesia. Untuk mengetahui lebih detail mengenai hal itu tentu perlu dilakukan penelitian secara lebih lanjut. Dari fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa diperlukan peran pemerintah agar praktek memanen air hujan dapat dilakukan secara luas. Pemerintah perlu melakukan komunikasi, informasi dan edukasi public agar masyarakat dapat tertarik perhatiannya, memahami, menyadari dan bersedia melakukannya di rumah masing-masing. Jika memanen air hujan dipraktekkan secara luas, maka masalah kekurangan air pada aras rumah tangga dapat dihindari. Berikut ini contoh desain sistem memanen air hujan yang sederhana yang dapat diterapkan masyarakat pada aras rumah tangga.

13495022801490651822 
 Berikut ini contoh praktek memanen air hujan di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Cambodia, Bangladesh, Sri Lanka, dsb.

1349502443351769265
 
 13495025812066311394
  
KESIMPULAN
Untuk memenuhi permintaan air yang persediaannya semakin terbatas, diperlukan upaya konservasi air. Memanen air hujan merupakan salah satu metode konservasi air yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam rumah tangga. Upaya konservasi air memerlukan komitmen dari semua pihak terhadap isu keberlanjutan air. Apabila memanen air hujan dipraktekkan secara berkesinambungan akan dapat membantu memelihara keberlanjutan air dan keberlanjutan lingkungan sebagai pendukung perikehidupan generasi sekarang dan yang akan datang.

Sumber inspirasi :
 http://green.kompasiana.com/iklim/2012/09/18/memanen-air-hujan-rain-water-harvesting-sebagai-alternatif-sumber-air-494318.html


DRAINASE PERKOTAAN YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN

DRAINASE PERKOTAAN YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN

LATAR BELAKANG
Mendengar kata hujan, mungkin yang terbayang di benak kita adalah banjir. Hal ini kerap terjadi karena biasanya saat hujan turun sebagian besar air akan meluap dan menimbulkan genangan ataupun banjir. Namun sebaliknya, ketika musim kemarau sumber air banyak yang mengalami kekeringan karena cadangan air tanah permukaan yang ada habis disedot untuk keperluan rumah tangga dan industri. Inilah permasalahan terkait sektor air khususnya di perkotaan yang harus diperhatikan. Salah satu solusi konkret untuk masalah tersebut adalah dengan memperbaiki sistem drainase perkotaan. 

Seiring dengan pertumbuhan penduduk perkotaan yang amat pesat di Indonesia, pada umumnya melampaui kemampuan penyediaan prasarana dan sarana perkotaan diantaranya permasalahan drainase perkotaan. Akibatnya Permasalahan banjir / genangan semakin meningkat pula. Pada umumnya penanganan sistem drainase di banyak kota di Indonesia masih bersifat parsial, sehingga tidak menyelesaikan permasalahan banjir dan genangan secara tuntas. Pengelolaan drainase perkotaan harus dilaksanakan secara menyeluruh, mengacu pada SIDLACOM dimulai dari tahap Survey, Investigasi perencanaan, pembebasan lahan, konstruksi, operasi dan pemeliharaan, serta ditunjang dengan peningkatan kelembagaan, pembiayaan serta partisipasi masyarakat. Peningkatan pemahaman mengenai sistem drainase kepada pihak yang terlibat baik pelaksana maupun masyarakat perlu dilakukan secara berkesinambungan. Agar penanganan permasalahan sistem drainase dapat dilakukan secara terus menerus dengan sebaik-baiknya.
Sistim Drainase Perkotaan adalah prasarana yang terdiri dari kumpulan sistem saluran didalam kota yang berfungsi mengeringkan lahan perkotaan dari banjir/genangan akibat hujan dengan cara mengalirkan kelebihan air permukaan ke badan air melalui sistem saluran-saluran tersebut.

Drainase Berwawasan Lingkungan adalah pengelolaan drainase yang tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi lingkungan.
Terdapat 2(dua) pola yang dipakai:
  • Pola detensi (menampung air sementara), misalnya dengan membuat kolam penampungan.
  • Pola retensi (meresapkan), antara lain dengan membuat sumur resapan, saluran resapan, bidang resapan atau kolam resapan. 
Drainase Perkotaan merupakan kumpulan sistem jaringan saluran drainase, situ-situ dan sumur-sumur resapan yang berada sepenuhnya didalam batas administrasi pemerintahan kota atau didalam batas ibu kota pemerintahan Kabupaten.

Sistem Drainase Perkotaan
  1. Ditinjau dari Satuan Wilayah Sungai adalah kumpulan anak-anak sungai yang berada didalam Satuan Wilayah Sungai yang tergolong micro pada orde sungai tingkat 2 atau 3 yang sepenuhnya berada didalam batas administratif Perkotaan.
  2. Ditinjau secara Administratif Perkotaan dalah kumpulan Jaringan anak-anak sungai dan saluran pada masing-masing Daerah Alirannya dimana penangannya menjadi kewenangan pemerintahan Kabupaten atau pemerintahan kota sekalipun sebagai ibukota Propinsi.
FUNGSI DRAINASE PERKOTAAN
  1. Mengeringkan bagian wilayah kota yang permukaan lahannya rendah dari genangan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif berupa kerusakan infrastruktur kota dan harta benda milik masyarakat.
  2. Mengalirkan kelebihan air permukaan ke badan air terdekat secepatnya agar tidak membanjiri/ menggenangi kota yang dapat merusak selain harta benda masyarakat juga infrastruktur perkotaan.
  3. Mengendalikan sebagian air permukaan akibat hujan yang dapat dimanfaatkan untuk persediaan air dan kehidupan akuatik.
  4. Meresapkan air permukaan untuk menjaga kelestarian air tanah.
Cara paling efektif agar drainase berwawasan lingkungan ini dapat berkelanjutan adalah peran serta masyarakat untuk ikut aktif di dalam penerapan pelestarian air tanah karena jika persediaan air tanah habis, merekalah yang paling merasakan akibatnya. Masyarakat dapat berperan aktif untuk ikut menabung air melalui kolam tandon penampung air hujan, berupa reservoir bawah tanah maupun dengan tangki penampung yang berfungsi menampung dan mengalirkan air hujan yang jatuh dari permukaan tanah, bangunan, juga atap rumah.  
 
Sumur Resapan, Solusi Termurah
Sumur resapan adalah salah satu solusi murah dan cepat untuk masalah banjir. Umumnya sumur resapan berbentuk bundar dengan diameter minimal 1 meter. Lubang galian sebelah atas sampai lapisan tanah relatif keras dan bersemen agar dilindungi dengan bidang penahanan longsoran dinding sumur (bisa dari bambu, pasangan bata, base beton atau drum). Kedalaman sumur resapan relatif tergantung kondisi formasi batuan dan muka air tanah. Untuk daerah yang muka air tanahnya dalam, kedalaman sumur resapan dapat dibuat hingga mencapai 5 meter.

Idealnya dalam perencanaan drainase di suatu wilayah perlu direncanakan adanya sumur resapan sehingga dimensi saluran drainase dapat lebih diminimalkan. Untuk hasil yang lebih maksimal, penggunaan sumur resapan dapat divariasikan dengan bangunan drainase lainnya seperti kolam resapan. Upaya ini akan berdampak besar bila semua masyarakat sadar dan mau menerapkannya. 
 
Peran sumur resapan tentu tidak akan berarti bila hanya beberapa rumah yang menerapkannya. Bayangkan, bila setiap rumah memiliki sumur resapan yang masing-masing mampu meresapkan air hujan sejumlah satu meter kubik dan satu kawasan terdapat sepuluh ribu rumah maka akan didapatkan sepuluh ribu meter kubik air yang dapat meresap ke tanah. Kawasan tersebut dapat mengurangi limpasan permukaan yang akan membebani saluran drainase di hilir dan mampu mengurangi masalah kekeringan pada musim kemarau karena pada musim penghujan, mereka telah menabung air.

Disadur dari :
PERPUSTAKAAN KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM
pustaka.pu.go.id/new/artikel-detail.asp?id=331

Jumat, 30 Mei 2014

PENGOLAHAN AIR KOTOR (LIMBAH)

PENGOLAHAN AIR KOTOR (LIMBAH)

Kebutuhan akan pentingnya air tidak diimbangi dengan kesadaran untuk melestarikan air, sehingga banyak sumber air yang tercemar oleh perbuatan manusia itu sendiri. Ketidak bertanggung jawaban mereka membuat air menjadi kotor, seperti membuang sampah ke tepian sungai sehingga aliran sungai menjadi mampet dan akhirnya timbul banjir jika hujan turun, membuang limbah pabrik ke sungai yang mengkibatkan air itu menjadi tercemar oleh bahan-bahan berbahaya, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, diperlukan pengolahan air yang telah tercemar hingga layak digunakan untuk aktivitas sehari-hari.

Pengolahan Air Kotor
Air kotor adalah air buangan dari kamar mandi, WC, dapur dan tempat cuci yang berasal dari buangan rumah tangga, perkantoran hotel, restoran, rumah sakit dan lain sebagainya (buangan domestik), tetapi tidak termasuk air buangan industri dan air hujan.

Tujuan Penyediaan Sarana Pengolahan Air Kotor
Perbaikan sanitasi lingkungan pemukiman yang bersih, sehat dan berkesinambungan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui terciptanya kesehatan masyarakat.


Contoh :
Instalasi Pengolahan Air Kotor Bojongsoang

Luas areal instalansi Bojongsoang adalah 85 Hektar yang meliputi instalansi dan kolam stabilisasi.
  1. Kapasitas kolam pengolahan:
  2. Debit rata-rata/hari : 80.835 m3/hari
  3. Debit maksimum : 243.000 m3/hari
  4. BOD influent : 360 mg/L
  5. Temperatur : 22.50 C
Proses yang terjadi pada instalansi tersebut meliputi: 
  1. Proses fisik
  2. Proses Biologi
Proses fisika dilakukan secara mekanik, sedangkan proses biologi meliputi tiga tahap yaitu : Anaerobik, fakultatif, dan maturasi. Proses pengolahan air limbah pada Instalansi Pengolahan Air Kotor Bojongsoang meliputi beberapa tahap, antara lain:

Pengolahan Fisik :
  • Saringan Kasar (Bar Screen); untuk menyaring sampah yang berukuran besar (>50mm).
  • Pompa Ulir (Screw Pump); untuk memompa air dari bak penampungan ke Grit Chamber.
  • Saringan Halus (Mechanical Bar Screen); untuk menyaring sampah berukuran kecil (20mm-50mm).
  • Screening Press; untuk memadatkan sampah yang dihasilkan oleh saringan halus.
  • Grit Chamber; bak pemisah Lumpur dan pasir.
Pengolahan Biologi :
  • Proses Anaerobik; penurunan bahan organic secara anaerobic dengan bantuan mikroorganisme anaerob.
  • Proses Fakultatif; penurunan bahan organic secara aerob dan anaerob.
  • Proses Maturasi (pematangan); penyempurnaan kualitas air.
Air hasil olahan berupa effluen yang dilepas ke badan air penerima harus sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan.

Pemanfaatan Hasil Proses Pengolahan Air Kotor
Hasil proses instalasi pengolahan air kotor dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk kebutuhan pertanian dan perikanan.
Sebagai produk samping, yaitu berupa lumpur organik. Lumpur tersebut kaya akan bahan-bahan organik karena berasal dari air limbah domestik yang diproses secara biologi. Sesuai dengan produk yang dihasilkan dari sistem pengolahan tersebut, maka lumpur yang dihasilkan diolah untuk dijadikan media tanam yang dapat membantu proses pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik. 

 




Benefit Pelayanan Air Kotor bagi Masyarakat
  • Perbaikan lingkungan pemukiman terutama untuk daerah-daerah padat penduduk.
  • Penataan sistem saluran pembuangan.
  • Penataan sistem sanitasi lingkungan pemukiman.
  • Penurunan tingkat pencemaran pada badan-badan air penerima akibat pembuangan limbah domestik. 

Sumber Insfirasi :

file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR.../AIR.pdf